BRAYUT-SLEMAN, YOGYAKARTA – Dalam upaya mendorong kepedulian lingkungan dan pengelolaan limbah rumah tangga, Paroki St. Yohanes Paulus II, Brayut, Sleman menggelar workshop pelatihan pembuatan Eco Enzyme pada Kamis (22/10/2026) siang. Pelatihan yang mengusung tema “Mengolah Sampah Organik menjadi Berkah“ ini berlangsung produktif dari pukul 10.00 hingga 11.45 WIB.
Acara ini dihadiri oleh 29 peserta yang antusias, terdiri dari umat Paroki Brayut serta kelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Temon. Jalannya pelatihan diampu oleh instruktur berpengalaman, Ibu Dorotea Tanti Soedibyo, dengan didampingi oleh Bapak Soedibyo dan Ibu Eming Hartoyo selaku asisten. Sementara itu, kelancaran jalannya acara tidak lepas dari peran Ibu Retno Wulan dan Ibu Rini Widodo sebagai tim organisator.
Dalam sesi pemaparan materi, Ibu Dorotea menjelaskan bahwa Eco Enzyme pertama kali ditemukan oleh Dr. Rosukon Poompanvong asal Thailand setelah melalui riset panjang selama 30 tahun. Melalui workshop ini, para peserta dibekali ilmu komprehensif yang mencakup teori dasar kegunaan Eco Enzyme, tujuan pembuatan, hingga manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari dan lingkungan.
Ibu Dorotea juga membagikan pengalaman pribadinya yang sudah merasakan langsung manfaat cairan multifungsi ini. "Saya sudah tidak lagi menggunakan bahan kimia untuk keramas, membersihkan muka, dan lain-lain. Saya sudah beralih menggunakan Eco Enzyme," tegasnya di hadapan para peserta.
Tidak hanya sekadar teori, para peserta juga telah diajak langsung melakukan praktik pembuatan. Pada sesi praktik tersebut, mereka membuat Eco Enzyme menggunakan sebuah gallon berkapasitas 20 liter. Volume gallon tersebut dimanfaatkan sebanyak 60% dengan menerapkan rumus komposisi standar ideal, yaitu:
· 10 bagian Air Bersih
· 1 bagian Molase (tetes tebu)
· 3 bagian Bahan Organik (BO)
Ia memaparkan mengenai formula pembuatan dengan standar di atas. "Perbandingan Air, Bahan Organik (BO), dan Molase itu kami idealkan menggunakan rumus (10:1:3). Seperti praktik hari ini, komposisi tersebut sebetulnya berasal dari perbandingan Air 12 liter, BO 3,6 kg, dan Molase 1,2 kg," jelas Ibu Dorotea.
Panduan Memilih Bahan Organik
Untuk jenis limbah dapur yang digunakan, Ibu Dorotea memberikan catatan penting mengenai karakteristik buah yang boleh dan tidak boleh dipakai. "Boleh buah apa saja, utamakan buah-buah lokal. Tetapi tidak boleh menggunakan kulit buah durian karena kulitnya berduri tajam dan ada lemaknya, alpukat karena kulitnya ada minyak, dan nangka karena ada getahnya. Ketiga buah ini harus dihindari karena banyak mengandung lemak dan getah yang bisa mengganggu proses pembentukan enzyme," urainya. Ia juga menambahkan trik untuk mengatur aroma hasil akhir, "Tergantung Anda, apakah mau bau atau aroma jeruk yang dominan atau aroma yang lain, tinggal diperbanyak saja jenis BO yang diinginkan."
Dalam praktik tersebut, BO yang dipilih meliputi kulit pepaya, kulit jeruk, kulit pisang, kulit nanas, kulit melon, dan kulit semangka. Hasil racikan ini selanjutnya akan disimpan di tempat yang aman dan didiamkan selama 3 bulan untuk proses fermentasi secara sempurna.
Ibu Dorotea sedang memaparkan praktik pembuatan Eco Enzym dalam sebuah gallon kapasitas 20 liter, dengan komposisi Air 12 liter, Bahan Organik (BO) 3,6 kg, dan Molase 1,2 kg. Pada praktik tersebut BO yang digunakan Adalah kulit pepaya, kulit jeruk, kulit pisang, kulit nanas, kulit melon, dan kulit semangka
Antusiasme dan Tanya Jawab Peserta
Suasana workshop berjalan interaktif saat memasuki sesi tanya jawab. Salah satu peserta bertanya mengenai alasan mengapa pembuatan Eco Enzyme tidak disarankan menggunakan gula jawa.
"Mengapa tidak boleh dengan gula jawa? Karena sekarang gula jawa di pasaran banyak yang sudah dicampur dengan gula pasir. Sementara gula pasir sendiri sudah melalui proses pemurnian menggunakan bahan kimia," jawab Ibu Dorotea mendalam.
Pertanyaan kritis lain juga muncul dari peserta terkait pemanfaatan Eco Enzyme untuk sektor lain, seperti budidaya perikanan. "Bagaimana standar minimum bahan organik jika hasilnya nanti ingin digunakan untuk piaraan ikan?" tanya salah satu peserta. Ibu Dorotea langsung menekankan prinsip dasarnya, "Yang paling penting adalah bahannya harus bersih, sehat, dan benar proses pencampurannya."
Sebagian besar peserta mengekspresikan rasa puas dan bahagia karena bisa mengikuti pelatihan ini secara gratis namun mendapatkan ilmu yang sangat aplikatif. Menyadari bahwa banyak pelatihan serupa sering kali berhenti tanpa aktivitas lanjutan, panitia langsung mengambil langkah nyata. Sebagai bentuk komitmen dan wadah pemantauan, organisator acara pelatihan Eco Enzym ini akan membentuk WhatsApp Group (WAG) khusus bernama "MENGOLAH SAMPAH ORGANIK jadi BERKAH".
Melalui grup tersebut, panitia, instruktur, dan peserta dapat terus berinteraksi, memantau perkembangan fermentasi gallon masing-masing, serta saling mendampingi dalam praktik mandiri di rumah. Langkah konkret ini diharapkan menjadi wujud nyata dari gerakan umat Paroki Brayut dalam menjawab seruan Ensiklik "Laudato Si" warisan mendiang Paus Fransiskus untuk senantiasa menjaga, merawat, dan melestarikan bumi sebagai rahim kehidupan bersama. (FB. Widodo Margotomo).
