Sleman 12 Juli 2026, Menjadi lektor adalah menjadi pewarta sabda bagi umat yang hadir di gereja, maka dibutuhkan pemahaman yang baik pada firman yang dibacakan, karena firman itu adalah sabda Tuhan sendiri.

Menjadi seorang lektor bukan sekadar mampu membaca dengan lantang di hadapan umat. Di balik tugas tersebut, diperlukan persiapan yang matang, baik secara teknis maupun spiritual, agar Sabda Allah dapat diwartakan dengan penuh makna. Pesan inilah yang menjadi inti dalam kegiatan Pembekalan Lektor Paroki Santo Yohanes Paulus II Brayut yang diikuti oleh 35 peserta.
Dalam sambutannya, Pastor Paroki St. Yohanes Paulus II Brayut, Rm. Benediktus Hanjar Krisnawan, Pr., menegaskan bahwa seorang lektor perlu memiliki sikap yang baik dalam menjalankan tugasnya. Mulai dari cara berpakaian yang pantas, membawa Kitab Suci dengan hormat, hingga penguasaan artikulasi dan intonasi saat membacakan firman, semuanya merupakan bagian dari pelayanan yang perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Sesi pembekalan kemudian dilanjutkan oleh Maria Rosa Delima dari Komisi Liturgi Kevikepan Yogyakarta Barat. Mengawali materinya, ia mengajak seluruh peserta untuk merenungkan kembali panggilan pribadi sebagai lektor. Menurutnya, spiritualitas seorang lektor berakar pada kesadaran bahwa dirinya dipanggil menjadi penyambung lidah Sabda Tuhan. Oleh karena itu, tugas seorang lektor bukan hanya membacakan teks Kitab Suci, melainkan menghadirkan Sabda Allah agar dapat menyentuh hati umat yang mendengarkannya.
Seorang lektor juga diharapkan ikut menghayati seluruh rangkaian liturgi. Pelayanan tidak berhenti setelah selesai membacakan bacaan, tetapi diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam keseluruhan perayaan Ekaristi sebagai bentuk penghormatan terhadap Sabda yang diwartakan.

Dalam pemaparannya, Maria Rosa juga menjelaskan dasar-dasar pelayanan lektor menurut ajaran Gereja. Berdasarkan Ensiklopedi Gereja Katolik III (1973), lektor adalah pelayan awam yang ditugaskan untuk membacakan Kitab Suci, selain Injil, kepada umat. Ketentuan tersebut juga ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik Kanon 230 ayat (2) serta Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR), yang menyebutkan bahwa umat awam dapat menerima tugas sebagai lektor dalam perayaan liturgi. Selain membacakan bacaan Kitab Suci, seorang lektor juga dapat membawakan doa umat maupun Mazmur Tanggapan apabila tidak ada pemazmur.
Penjelasan tersebut menjadi semakin relevan bagi para lektor Paroki Brayut yang telah menerima pelantikan resmi pada Misa Minggu, 19 April 2026. Melalui pembekalan ini, mereka kembali diperkaya agar mampu menjalankan pelayanan sesuai semangat dan ketentuan Gereja.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa syarat utama menjadi lektor adalah telah menerima Sakramen Inisiasi, yaitu Baptis, Ekaristi, dan Penguatan, serta tidak berada dalam halangan Gereja maupun menjadi batu sandungan bagi umat. Selain itu, seorang lektor perlu memiliki kemampuan membaca dengan baik dan memahami isi bacaan, kemauan untuk terus belajar dan berlatih, serta kerendahan hati untuk menerima masukan sebagai bagian dari proses pembinaan.
Persiapan batin juga menjadi unsur yang tidak kalah penting. Pemahaman terhadap isi Kitab Suci, latihan yang berkesinambungan, serta keterbukaan untuk terus berkembang akan membantu seorang lektor mewartakan Sabda Allah secara lebih hidup dan bermakna.
Pembekalan ini turut mengulas berbagai keterampilan teknis yang perlu dikuasai, seperti pengaturan intonasi, tekanan suara, tempo, jeda, hingga pelafalan yang tepat agar pesan dalam bacaan dapat tersampaikan dengan jelas kepada umat.
Salah satu tantangan yang dibahas adalah pelayanan pada Misa berbahasa Jawa. Karena Paroki Brayut menyelenggarakan Misa dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, para lektor perlu mempersiapkan diri secara khusus agar mampu melafalkan teks Jawa dengan baik dan benar. Untuk mendukung hal tersebut, tim pelayanan lektor secara rutin membagikan rekaman bacaan serta naskah digital melalui Google Drive dan grup komunikasi lektor. Dengan demikian, para petugas dapat mempelajari bacaan jauh sebelum jadwal pelayanan sehingga pewartaan Sabda dapat dilakukan dengan lebih percaya diri dan penuh penghayatan.
Kegiatan pembekalan ditutup dengan sesi foto bersama serta penyampaian kesan dan pesan dari para peserta. Mereka berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin sebagai sarana pembinaan berkelanjutan. Melalui pembekalan yang berkesinambungan, diharapkan para lektor Paroki Santo Yohanes Paulus II Brayut semakin bertumbuh dalam semangat pelayanan, semakin terampil mewartakan Sabda Tuhan, dan semakin teguh menghidupi panggilan mereka di tengah Gereja.

