Sejarah Paroki
Perjalanan Iman Paroki Santo Yohanes Paulus II Brayut
Sejarah perkembangan Paroki Santo Yohanes Paulus II Brayut, dari Pusat Pastoral Wilayah hingga menjadi Paroki Mandiri.
Tahap Pertumbuhan
Masa awal perintisan pembentukan Pusat Pastoral Wilayah dari Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati.
Gembala Baru
Romo Petrus Tri Margana, Pr dan Romo Yulius Sukardi, Pr mulai berkarya sebagai gembala Paroki St Aloysius Gonzaga Mlati.
Sapaan Umat
Kegiatan proaktif menyapa umat di lingkungan-lingkungan yang diakhiri misa kudus untuk menjalin kedekatan gembala dengan umat.
Pengelompokan Wilayah
Merespon jumlah umat mencapai 6.657 jiwa (16 wilayah, 68 lingkungan), paroki Mlati dikelompokkan menjadi 3 Pusat Pastoral Wilayah (PPW).
PPW St. Yohanes Paulus II
PPW Utara terbentuk, mencakup wilayah Donoharjo Utara, Donoharjo Selatan, Tambakrejo, Dukuh, dan Brekisan (total 2.172 jiwa) berpusat di Tambakrejo.
Tahap Perkembangan & Pendirian Paroki
Masa transisi dan kemandirian PPW menuju Paroki Mandiri yang diiringi dengan pembangunan pusat pastoral di Dusun Brayut.
Identitas Baru
Umat PPW Utara sepakat menetapkan St. Yohanes Paulus II sebagai pelindung wilayah, misa wilayah ditingkatkan menjadi 2 kali sebulan.
Kemandirian Liturgi
Perayaan Ekaristi dan pelaporan kegiatan mulai mandiri dikelola PPW Santo Yohanes Paulus II.
Pengadaan Lahan
Panitia berhasil mendapatkan tanah seluas 2.056 m² di Desa Wisata Brayut yang strategis di tengah 5 gereja wilayah.
Izin Membangun
Terbit IMB untuk pembangunan Pastoran Brayut. Bangunan meliputi Pastoran, Joglo, dan Limasan yang dirancang selaras dengan nuansa Desa Budaya.
Pemberkatan Pastoran
Gedung Pastoran diberkati oleh Bapa Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko dengan total anggaran mencapai Rp 2,4 Milyar.
Berdirinya Paroki
Paroki St. Yohanes Paulus II Brayut resmi berdiri menjadi Paroki Mandiri berdasarkan SK Pendirian Paroki Nomor 1376/B/I/b-140/18.
Misa Kepyakan
Diadakan Misa Kepyakan sebagai penanda peresmian paroki yang dipimpin langsung oleh Bapa Uskup.
Pemekaran Teritori & Lingkungan
Pertumbuhan Gereja dan pembentukan wilayah pastoral baru untuk menanggapi kebutuhan umat yang semakin dinamis.
Gagasan Rumah Ibadah Baru
Muncul gagasan menggunakan rumah Trah Harjosumarto di Dukuh untuk memfasilitasi umat di daerah Dukuh agar lebih dekat saat beribadah rutin.
Kesepakatan Hibah
Keluarga Trah Harjosumarto merelakan penyerahan aset mereka melihat sejarah panjang penanaman iman Katolik bermula dari rumah tersebut.
Peresmian St. FX Dukuh
Misa serah terima hibah dihadiri 277 umat, menandai hadirnya Gereja St. Fransiskus Xaverius Dukuh.
Pemekaran Wilayah Dukuh
Wilayah Dukuh dimekarkan menjadi Wilayah St. Venantius Ngelo dan Wilayah St. FX Dukuh. Paroki resmi menaungi 6 wilayah (Kayunan, Karanglo, Tambakrejo, Karangkepuh, Ngelo, Dukuh).
Pemekaran Lingkungan
Lingkungan dengan jumlah umat besar (Lingkungan Maria & Lingkungan De Britto) ikut mengalami pemekaran.
Pusat Paroki & Penggembalaan
Penataan pusat administrasi dan dinamika paroki sebagai pusat kegiatan pastoral umat.
Tata Kelola Umat
Penerapan sistem pendataan elektronik umat yang dianjurkan oleh standar Keuskupan Agung Semarang.
Stabilitas Demografi
Jumlah umat relatif stabil dengan angka 2.023 jiwa yang tersebar dalam 5 Wilayah dan 23 Lingkungan.
Penetapan Gereja Pusat
SK Uskup Agung Semarang menetapkan Gereja St. Yusup Tambakrejo diubah menjadi Gereja Paroki Santo Yohanes Paulus II Brayut sebagai pusat utama. Kini paroki membina 1 gereja paroki dan 5 gereja wilayah.
