Renungan Harian 15 Februari 2022

Renungan harian oleh Romo Petrus Tri Margana, Pr

BACAAN:

- Yakobus 1:12-18 - Allah tidak mencobai siapapun.

- Markus 8:14-21 - Awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.


Audio



TEMA: Telah DEGIL kah hatimu?


Ibu/Bapak/Saudara/Saudari..

Degil merupakan ungkapan pada seseorang yang sulit dinasehati. Orang itu dianggap kepala batu atau keras kepala. Apa yang menjadi masukan-masukan dari siapapun tidak membuat orang itu luluh dalam pendiriannya, meski semua orang mengatakan salah atas apa yang dilakukannya. 

Orang tua yang anaknya degil akan bisa sangat putus asa, sebab hal-hal yang disampaikan kepadanya seperti angin lalu;  ibaratkan semua omongan orang masuk lewat telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri. 

Jika salah satu anak di kelas termasuk degil, ia akan menyusahkan teman-teman dan gurunya karena ia akan berbuat semaunya, tidak mengikuti aturan, tidak mau disiplin, dan tidak mau tau dengan tata tertib. Ia akan melawan jika diingatkan, merasa bangga dengan kesalahan, dan bisa mengajak teman-teman lainnya melakukan sebagaimana ia perbuat.


Bila terjadi dalam masyarakat, orang yang degil tidak mau tau dengan apapun yang menjadi hasil musyawarah bersama. Ia bisa dengan mudah menyalahkan hasil keputusan bersama jika tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Ia cenderung memaksakan pendapatnya sendiri, dan bisa sangat keras melawan orang yang tidak sependapat dengannya. Bila tidak demikian, maka ia cenderung nekad dalam tindakannya meskipun apa yang dilakukan dinilai salah menurut pendapat orang banyak. Kedegilannya bisa membuat jengkel siapa saja, sementara ia tidak peduli dengan apapun yang dikatakan orang. 

Hati orang degil sudah membatu. Maka ia juga tidak peka dengan penderitaan sesama, mengingat baginya kebenaran itu sesuai dengan pendapatnya. 

Hati orang degil tidak mudah berbagi apapun dengan sesama yang menderita karena tidak ada rasa belas kasihan padanya.


Ibu//Bapak/Saudara/Saudari..

Seorang Bapak bernama Yadi selalu menjadi pembicaraan orang-orang di lingkungan atau wilayahnya ia merasa hebat atas segala yang pernah dilakukanú di masa muda. Sekarang dalam usianya yang ke-80 tahun benar-benar merepotkan bagi orang-orang di lingkungannya. Dalam pertemuan lingkungan, selalu merasa benar dalam pendapatnya, dan orang lain seperti apapun dianggap salah. Jika pengurus lingkungan membuat rencana-rencana baik demi kemajuan bersama, ia selalu tidak setuju karena pikirannya yang selalu lain. Pengurus lingkungan yang secara usia masih jauh lebih muda dibandingkan dengan dia selalu dikatakan sebagai anak kecil belum tau apa-apa tentang gereja. Maka ia selalu melawan setiap apapun keputusan, selalu tidak setuju dengan kesepakatan bersama untuk maju. Dalam renungan-renungan  KS bersama di lingkungan, ia selalu berbicara yang terakhir, agar bisa menyalahkan pendapat-pendapat sebelumnya, dan selalu ia mengoreksi sharing-sharing atau pendapat orang lain. 


Kedegilan pada intinya harus dikikis jika itu terjadi pada diri kita. Orang tidak bisa hidup bersama dengan orang lain jika pikiran dan hatinya tetap degil. Ia tidak bisa menyelaraskan atau menyamakan pendapat dan perbuatannya dengan orang lain, serta tidak juga bisa memetik buah-buah positif dari apa yang dilakukan orang lain agar menjadi pembelajaran bagi dirinya. Kedegilan harus dibuang jauh-jauh, supaya akhirnya kita menjadi pribadi yang benar-benar tau, mengerti, serta mudah menerima pendapat sesama. Sadar bahwa diri ini merupakan makhluk yang belum sempurna, maka kita perlu untuk belajar dari siapapun dan selalu siap untuk mendengarkan siapapun. Semakin usia bertambah, tentu harapannya justru semakin mampu mencerna segala masukan, dan dengan rendah hati turut mendukungnya. Sikap sok tau harus kita buang, kita ganti dengan berani bertanya tentang apapun yang kita rasa perlu diketahui dengan sungguh-sungguh.


Ibu//Bapak/Saudara/Saudari..

Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan bagaimana Yesus dengan amat keras mengingatkan kepada para murid akan hatinya yang sungguh degil. Orang-orang membicarakan akan tidak adanya roti. Terhadap hal itu Yesus mengingatkan bahwa Ia berkuasa untuk membantu siapapun yang lapar sebagaimana telah ia buat dalam penggandaan roti sebelumnya. Karena itu Yesus menegur mereka dengan keras. Dikatakan dalam KS, "Belum juga kah kamu paham dan mengerti? Telah degil kah hatimu?  Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar." Tersirat dalam firman itu yakni akan keadaan orang degil yang meskipun memiliki mata, tetapi tidak melihat; dan meskipun mempunyai telinga tetapi tidak mau mendengar. Orang degil tidak mau paham dengan apa yang didengar firman Tuhan


Kepada kita masing-masing marilah kita sungguh belajar mendengarkan apapun dan dari siapapun, serta berani belajar dari apa yang dikatakan baik oleh orang lain, sehingga kita bertumbuh dan semakin maju dalam segala kebaikan. Kita harus semakin rendah hati dari hari ke hari, kita belajar terus menerus bagaimana hidup kita agar semakin berkenan kepada Tuhan.


Salam kasih dan doa dari saya Rm P. Tri Margana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages